Kalau menurut Wikipedia, pengertian Politik adalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang antara lain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya dalam negara.
Masih dari Wikipedia, ternyata politik juga dapat diterjemahkan dari sudut pandang berbeda, yaitu :
- politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama (teori klasik Aristoteles)
- politik adalah hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan dan negara
- politik merupakan kegiatan yang diarahkan untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan di masyarakat
- politik adalah segala sesuatu tentang proses perumusan dan pelaksanaan kebijakan publik.
Jadi, pengertian politik secara garis besar adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat, yang nantinya hasil dari pembentukan dan pembagian kekuasaan tersebut akan digunakan untuk penyelenggaraan pemerintahan dan negara yang baik.
Lalu bagaimana dengan kondisi dunia politik di Indonesia?
Pertanyaan yang kritis dan menarik, namun jawabannya mungkin mayoritas masyarakat Indonesia sudah mengetahuinya. Ya, kondisi dunia politik di negeri kita ini sudah acak-acakan, abstrak, amburadul. Oh ya? Terus, kenapa sih bisa seperti itu? Jawabannya simpel, karena dalam prosesnya sendiri, yaitu pada pembentukan dan pembagian kekuasaan, keduanya sudah tidak berjalan dengan semestinya.
Marilah kita tengok masalah kebijakan kenaikan harga BBM yang terjadi kurang lebih seminggu - 2 minggu yang lalu. Orang - orang berunjuk rasa disana - sini. Kerusuhan yang dilakukan oleh pihak yang berunjuk rasa juga terjadi disana - sini. Sebenarnya apa sih yang mereka tuntut dari pemerintah? Nah yang satu ini perlu diklarifikasi. Yang mereka perjuangkan bukan menolak kenaikan harga BBM dan memperjuangkan hak rakyat untuk mendapat BBM dengan harga Rp. 4.500,- seperti yang dikabarkan di media massa, melainkan menunjukkan kekecewaan mereka terhadap dunia politik di Indonesia yang dinilai sudah terlalu kotor dan busuk. Kok saya bisa tahu? Soalnya saya udah turun sendiri ke lapangan dan melihat sendiri spanduk - spanduk yang mereka bawa :) Hampir tidak ada yang bertuliskan "TOLAK KENAIKAN HARGA BBM" dan sejenisnya, melainkan lebih kepada keinginan mereka agar pemerintah melakukan restorasi terhadap dunia politik di Indonesia.
Padahal, pemerintah sudah memberikan penjelasan mengenai kenapa dikeluarkan kebijakan untuk menaikkan harga BBM. Yang pertama adalah karena kenaikan ICP (Indonesian Crude Price) yang cukup signifikan. Yang kedua yaitu untuk menaikkan APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara), yang nantinya akan digunakan untuk menaikkan kesejahteraan rakyat seperti perbaikan infrastruktur, biaya kesehatan, biaya pendidikan, dan sebagainya. Loh, berarti kebijakan pemerintah tersebut sudah benar dong? Terus kenapa masyarakat masih melakukan aksi unjuk rasa menolak kebijakan kenaikan harga BBM? Nah, ini yang perlu kita cermati. Pernah nggak kalian berpikir: apakah semua yang dikatakan pemerintah kita itu benar adanya? Apakah APBN yang dikatakan pemerintah itu benar akan digunakan untuk perbaikan infrastruktur, biaya kesehatan, biaya pendidikan, dan lainnya? Nyatanya, tidak. APBN yang didapatkan dari masyarakat Indonesia melalui pajak, yang diharapkan akan digunakan dengan semestinya, justru "lari" ke rekening - rekening pribadi mereka, yang bekerja di pemerintahan, mulai dari jabatan yang paling bawah sampai ke jabatan yang paling atas. Terbukti dengan kasus - kasus korupsi yang terjadi, mulai dari kasus yang tidak terlalu berat seperti Gayus Tambunan, seorang pegawai pajak yang "membelokkan" uang pajak ke rekeningnya sendiri, hingga kasus Wisma Atlet yang melibatkan mantan bendahara Partai Demokrat, Nazaruddin.
Kita lihat juga kasus lain yang menyangkut penyelewengan dana APBN, seperti penghamburan uang yang dilakukan oleh anggota komisi DPR yang melakukan studi banding ke luar negeri. Judulnya sih "studi banding", tapi kok anggota keluarga ikut dibawa segala? Mulai dari istri, anak, kakak, adik, bahkan sampai teman istrinya pun ikut. Menurut pengakuan teman saya yang bekerja di salah satu agen travel ternama, pernah sekali seniornya menjadi tour guide bagi para anggota komisi DPR yang melakukan studi banding. Para anggota komisi DPR beserta "rombongan"nya masing - masing tersebut menginap di hotel mewah berbintang 5, melakukan tur ke tempat - tempat wisata, bahkan sampai membeli suvenir untuk dibawa pulang. Tebak, mereka menggunakan uang dari mana? Yap, mereka menggunakan dana APBN yang mereka sebut sebagai "uang jajan" mereka selama disana. Rasanya sakit banget kan ketika mengetahui fakta ini?
Tak lupa, kita juga perlu mengingat kejadian yang lucu ketika DPR berencana untuk menggunakan dana APBN untuk perbaikan WC gedung DPR, sebesar 1.5 M. Anak SD yang baru belajar menghitung saja tahu bahwa angka tersebut sangatlah konyol dan tidak masuk akal. Betapa tidak, uang 1.5 M di jaman sekarang ini mampu untuk membeli sebuah rumah 2 lantai beserta tanahnya, bahkan jika mungkin beserta perabotan di dalam rumahnya.
Melihat kondisi - kondisi tersebut, tak heran jika Indonesia masuk menduduki peringkat yang cukup tinggi dalam hal negara paling korupsi di dunia. Memang, sudah mulai banyak kasus - kasus yang berhubungan dengan penyelewengan dana APBN yang terkuak dan berhasil di kupas tuntas, namun masih banyak para aktor - aktor, pelaku segala kejahatan di negara ini yang masih bebas melanglang buana dan terus menikmati uang hasil jerih payah kita. Lalu, bagaimana kita mengatasi hal ini? Mudah saja, yaitu melalui kesadaran diri sendiri. Kita, sebagai generasi muda, generasi penerus mereka, harus bisa menunjukkan bahwa kita bisa lebih baik dari mereka. Bagaimana cara menunjukkannya? Mulailah dari hal kecil seperti meminimalkan kebiasaan mencontek. Apa hubungannya mencontek dengan korupsi? Ketika anda mencontek, anda mengambil jawaban teman anda, yang belajar lebih keras dari anda, dan mendapat nilai yang sama, bahkan lebih bagus dari mereka. Sama saja ketika kita melakukan korupsi, kita mengambil uang orang lain yang bekerja susah payah, lalu menjadikannya keuntungan bagi anda. Ingat, kebiasaan sejak kecil akan selalu mengakar di dalam diri kita ketika dewasa nanti.
"Generasi kita ditugaskan untuk memberantas generasi tua yang mengacau. Generasi kita yang menjadi hakim atas mereka yang dituduh koruptor-koruptor tua... Kitalah yang dijadikan generasi yang akan memakmurkan Indonesia." - Soe Hok Gie